“LULUS”. Itulah kata yang
tertera dalam secarik kertas yang barusan aku keluarkan dari amplop coklat.
“Alhamdullillah”.
Aku tersenyum. Perjuanganku
kini tidak sia-sia. Sejenak aku mengamati angka-angka yang tertera di kertas
tersebut. Penjelajahan mataku akhirnya tertuju pada sebuah kolom yang
bertuliskan “jumlah nilai”. Aku mengamati sejenak, namun mataku tidak mau
beranjak dari kolom tersebut. Aku mengembangkan senyum yang sejak semula
tersungging di bibirku.
Ingin rasanya aku berteriak
dan menunjukkan kepada dunia bahwa aku berhasil. Namun, semua itu tertahan
karena dalam otakku berkecamuk sebuah kalimat, “setinggi-tingginya gunung,
pasti ada gunung yang lebih tinggi lagi”. Itu berarti, sebagus-bagusnya
nilaiku, pasti banyak yang jauh lebih baik dariku.
Aku melangkah dengan kepala
tegak dan tatapan mantap, seolah sebuah surga sudah menantiku di depan sana.
***
“Ibu, lihat nilaiku! aku
lulus bu!”.
Ibuku memandangku. Sebuah
senyum kecil tersungging di bibir seseorang yang telah melahirkan aku tersebut.
Aku meletakkan amplop coklat tersebut di sebuah meja makan yang telah menemani
perjalanan hidup keluarga kami selama bertahun-tahun. Aku masuk ke sebuah
ruangan yang menurutku paling indah, dengan cat warna hijau, membantuku untuk
sejenak melepas penat setelah melakukan aktivitas. Ya, itulah kamar tidurku.
Sejenak aku teringat tentang
kewajibanku terhadap Rabb-ku.segera ku tanggalkan seragam sekolahku dan
berganti dengan busana muslim berwarna merah yang dipadu dengan sebuah sarung
bermotif persegi, berwarna hijau. Aku bergegas menuju temapat dimana aku biasa
mengambil air wudhu. Segera ku tunaikan kewajibanku yang sempat tertunda
tersebut.
***
Makan siang kali ini terasa
begitu berbeda. Senda dan gurau tidak merasa enggan keluar dari bibir ibuku.
Adikku yang sedari tadi melahap makanannya, terbawa oleh gurauan ibuku. Aku
merasa, hari ini adalah hari paling istimewa dalam hidupku. Hidangan yang
tersaji di hadapanku, ku lahap dengan cepatnya
***
Aku bersiap menuju tempat
dimana aku akan menemukan cara untuk menggapai semua mimpi dan anganku. Sebuah
tempat yang menjadi jujukan bagi semua anak sepertiku. Ku persiapkan semua
berkas yang diperlukan untuk pendaftaran. Aku tidak mau gagal hanya karena
kekurangan berkas yang diperlukan.
Ku kayuh sepedaku menuju
jalan kesukseskanku. Setelah beberapa saat, aku tiba di depan sebuah bangunan
tua berarsitektur belanda. Ku amati sejenak bangunan yang berdiri gagah di tepi
lalu lalang kendaran. Perlahan ku dekati pintu gerbang bangunan tersebut. Ku biarkan
sepedaku beristirahat sejenak setelah menemaniku berjalan menuju tempat dimana
sejuta prestasi akan ku raih.
Aku berkeliling menjelajahi
setiap sudut bangunan tua tersebut. Ku amati setiap detail yang ada di sana.
Namun betapa terkejutnya ketika aku melihat secarik kertas yang tertempel
dengan manis di dinding. Di awal kertas tersebut tertulis,
“Bagi Siswa Yang Diterima,
Harus Memenuhi Semua Persyaratan Sebagai Berikut:”.
Aku membaca larik demi larik
kata yang terulis dalam kertas tersebut. Pada suatu titik, penjelajahan mataku
terhenti. Berulang-ulang aku membaca kalimat yang berbunyi,
“siswa yang diterima wajib membayar iuran
pokok sebanyak Rp 2.600.000,- setiap bulan.”
Aku shock. Terlintas sebuah
pertanyaan di benakku, bagaimana bisa orang tuaku membiayai sekolahku sedangkan
gaji beliau kurang dari itu? Pertanyaan tersebut membuatku terdiam. Aku
berusaha menemukan sebuah jawaban yang bisa mejawab pertanyaan tersebut. Namun,
yang kutemukan hanyalah kekosongan dan kegelapan. Asa yang sudah terpatri di
benakku, perlahan luntur dan meleleh. Harapanku kini hanya menjadi sebuah
harapan semu, yang tak tahu apa aku bisa memperjelas harapan itu lagi.
Aku memutuskan untuk pulang.
Pertanyaan tersebut masih terus menghantui pikiranku. Ku putuskan untuk mampir
sejenak ke sekolahku. Siapa tahu aku bisa menemukan solusi bagi masalah yang
sedang menderaku tersebut.
Aku duduk termenung di depan
sebuah ruang yang sempat ku tempati untuk menimba ilmu. Tiba-tiba, sebuah
tangan menepuk pundakku. Aku menoleh. Tepat di belakangku, berdiri sesosok
orang yang sangat aku kenal, sosok yang selalu membimbingku, sosok yang menjadi
panutanku dalam melangkah ke depan. Beliau adalah wali kelasku. Tangan kirinya
memegang secarik kertas yang seperti poster. Aku melihatnya, dan beliau rupanya
mengerti bahwa aku sangat ingin tahu apa isi dari kertas tersebut.
Beliau duduk disampingku dan
bertanya,
“Rif, mengapa kamu murung
begitu?”
“tidak apa-apa kok, Bu.”
Jawabku.
“ada kabar baik untukmu.” Bu
Leny berujar.
“maaf bu, kalau boleh tahu,
kabar apa?” aku bertanya
Kemudian beliau menyerahkan
secarik kertas yang sedari tadi dipegangnya. Aku membaca larik demi larik kata
yang tertulis di kertas tersebut. Setelah tahu apa isi dari kertas tersebut,
aku bagaikan menemukan setitik cahaya harapan di duniaku yang sudah sangat
gelap itu. Aku memandang Bu Leny yang sedari tadi memperhatikan ku membaca
kertas yang ternyata pamflet berisi informasi tentang beasiswa penuh dari
sebuah foundation. Ingin rasanya aku memeluk beliau dan menangis bahagia.
Bagiku beliau adalah malaikat yang dikirim oleh Allah SWT untuk menunjukan
jalan yang lebih baik untuk menggapai semua cita-citaku.
Harapanku yang semula hanya
harapan semu, kini berubah menjadi harapn yang sangat jelas. Kegelapan yang ada
di duniaku kini mulai tersinari oleh cahaya yang sangat terang. Masa depanku
kini mulai tampak, masa depan yang indah. Kesuksesan yang ada di depan sana
seakan menunggu untuk masuk dalam genggamanku.
Satu kata yang terucap,
“Alhamdullillah.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar