Sabtu, 13 Oktober 2012

Setetes Embun di Tengah Gurun


“LULUS”. Itulah kata yang tertera dalam secarik kertas yang barusan aku keluarkan dari amplop coklat.


“Alhamdullillah”.
Aku tersenyum. Perjuanganku kini tidak sia-sia. Sejenak aku mengamati angka-angka yang tertera di kertas tersebut. Penjelajahan mataku akhirnya tertuju pada sebuah kolom yang bertuliskan “jumlah nilai”. Aku mengamati sejenak, namun mataku tidak mau beranjak dari kolom tersebut. Aku mengembangkan senyum yang sejak semula tersungging di bibirku.

Ingin rasanya aku berteriak dan menunjukkan kepada dunia bahwa aku berhasil. Namun, semua itu tertahan karena dalam otakku berkecamuk sebuah kalimat, “setinggi-tingginya gunung, pasti ada gunung yang lebih tinggi lagi”. Itu berarti, sebagus-bagusnya nilaiku, pasti banyak yang jauh lebih baik dariku.
Aku melangkah dengan kepala tegak dan tatapan mantap, seolah sebuah surga sudah menantiku di depan sana.
***
“Ibu, lihat nilaiku! aku lulus bu!”.
Ibuku memandangku. Sebuah senyum kecil tersungging di bibir seseorang yang telah melahirkan aku tersebut. Aku meletakkan amplop coklat tersebut di sebuah meja makan yang telah menemani perjalanan hidup keluarga kami selama bertahun-tahun. Aku masuk ke sebuah ruangan yang menurutku paling indah, dengan cat warna hijau, membantuku untuk sejenak melepas penat setelah melakukan aktivitas. Ya, itulah kamar tidurku.
Sejenak aku teringat tentang kewajibanku terhadap Rabb-ku.segera ku tanggalkan seragam sekolahku dan berganti dengan busana muslim berwarna merah yang dipadu dengan sebuah sarung bermotif persegi, berwarna hijau. Aku bergegas menuju temapat dimana aku biasa mengambil air wudhu. Segera ku tunaikan kewajibanku yang sempat tertunda tersebut.
***
Makan siang kali ini terasa begitu berbeda. Senda dan gurau tidak merasa enggan keluar dari bibir ibuku. Adikku yang sedari tadi melahap makanannya, terbawa oleh gurauan ibuku. Aku merasa, hari ini adalah hari paling istimewa dalam hidupku. Hidangan yang tersaji di hadapanku, ku lahap dengan cepatnya
***
Aku bersiap menuju tempat dimana aku akan menemukan cara untuk menggapai semua mimpi dan anganku. Sebuah tempat yang menjadi jujukan bagi semua anak sepertiku. Ku persiapkan semua berkas yang diperlukan untuk pendaftaran. Aku tidak mau gagal hanya karena kekurangan berkas yang diperlukan.
Ku kayuh sepedaku menuju jalan kesukseskanku. Setelah beberapa saat, aku tiba di depan sebuah bangunan tua berarsitektur belanda. Ku amati sejenak bangunan yang berdiri gagah di tepi lalu lalang kendaran. Perlahan ku dekati pintu gerbang bangunan tersebut. Ku biarkan sepedaku beristirahat sejenak setelah menemaniku berjalan menuju tempat dimana sejuta prestasi akan ku raih.
Aku berkeliling menjelajahi setiap sudut bangunan tua tersebut. Ku amati setiap detail yang ada di sana. Namun betapa terkejutnya ketika aku melihat secarik kertas yang tertempel dengan manis di dinding. Di awal kertas tersebut tertulis,
“Bagi Siswa Yang Diterima, Harus Memenuhi Semua Persyaratan Sebagai Berikut:”.
Aku membaca larik demi larik kata yang terulis dalam kertas tersebut. Pada suatu titik, penjelajahan mataku terhenti. Berulang-ulang aku membaca kalimat yang berbunyi,
 “siswa yang diterima wajib membayar iuran pokok sebanyak Rp 2.600.000,- setiap bulan.”
Aku shock. Terlintas sebuah pertanyaan di benakku, bagaimana bisa orang tuaku membiayai sekolahku sedangkan gaji beliau kurang dari itu? Pertanyaan tersebut membuatku terdiam. Aku berusaha menemukan sebuah jawaban yang bisa mejawab pertanyaan tersebut. Namun, yang kutemukan hanyalah kekosongan dan kegelapan. Asa yang sudah terpatri di benakku, perlahan luntur dan meleleh. Harapanku kini hanya menjadi sebuah harapan semu, yang tak tahu apa aku bisa memperjelas harapan itu lagi.
Aku memutuskan untuk pulang. Pertanyaan tersebut masih terus menghantui pikiranku. Ku putuskan untuk mampir sejenak ke sekolahku. Siapa tahu aku bisa menemukan solusi bagi masalah yang sedang menderaku tersebut.
Aku duduk termenung di depan sebuah ruang yang sempat ku tempati untuk menimba ilmu. Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk pundakku. Aku menoleh. Tepat di belakangku, berdiri sesosok orang yang sangat aku kenal, sosok yang selalu membimbingku, sosok yang menjadi panutanku dalam melangkah ke depan. Beliau adalah wali kelasku. Tangan kirinya memegang secarik kertas yang seperti poster. Aku melihatnya, dan beliau rupanya mengerti bahwa aku sangat ingin tahu apa isi dari kertas tersebut.
Beliau duduk disampingku dan bertanya,
“Rif, mengapa kamu murung begitu?”
“tidak apa-apa kok, Bu.” Jawabku.
“ada kabar baik untukmu.” Bu Leny berujar.
“maaf bu, kalau boleh tahu, kabar apa?” aku bertanya
Kemudian beliau menyerahkan secarik kertas yang sedari tadi dipegangnya. Aku membaca larik demi larik kata yang tertulis di kertas tersebut. Setelah tahu apa isi dari kertas tersebut, aku bagaikan menemukan setitik cahaya harapan di duniaku yang sudah sangat gelap itu. Aku memandang Bu Leny yang sedari tadi memperhatikan ku membaca kertas yang ternyata pamflet berisi informasi tentang beasiswa penuh dari sebuah foundation. Ingin rasanya aku memeluk beliau dan menangis bahagia. Bagiku beliau adalah malaikat yang dikirim oleh Allah SWT untuk menunjukan jalan yang lebih baik untuk menggapai semua cita-citaku.
Harapanku yang semula hanya harapan semu, kini berubah menjadi harapn yang sangat jelas. Kegelapan yang ada di duniaku kini mulai tersinari oleh cahaya yang sangat terang. Masa depanku kini mulai tampak, masa depan yang indah. Kesuksesan yang ada di depan sana seakan menunggu untuk masuk dalam genggamanku.
Satu kata yang terucap, “Alhamdullillah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar