Senin, 08 Oktober 2012

Kelam Terpejam

dalam malam remang ia bercanda
mencoba menghapus luka
menyambung nyawa meski sudah tak ber-asa
dengan sedikit sepuhan celak
bersanding dengan jelaga tembakau dan vodka
sederet biji mentimun tertata rapi dalam balutan merah
merah , iya merah, semerah darah

kadang ditendang
kadang disayang
perih , tersayat !
namun sesungging senyum menutup radang
radang yang dalam
duka terpanggang
jatuhnya bulir bening
berpaut dengan lolongan panjang serigala
setetes sesal membasuh jiwa

bulir bening semakin laju
jatuh mengukir sayatan baru
tak berdarah memang
namun rasa bagai terpedang
seikat daun hijau tertungkup di sudut neraka
entah akan menjadi madu atau racun
ia tak sangka

bulir baru bermunculan
bersembunyi dalam seutas sungging indah
nurani berontak
rasa menolak
tetapi dua itu tak mampu mengajak raga
bertahan berlumur hitam
kelam terpejam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar