lelah sudah raga ini
lelah sudah fikir ini
tak terungkap berapa peluh terbuang
tak terkira berapa darah tertumpah
pedangku mulai rapuh
langkahku semakin berat
“LULUS”. Itulah kata yang
tertera dalam secarik kertas yang barusan aku keluarkan dari amplop coklat.
“Alhamdullillah”.
Aku tersenyum. Perjuanganku
kini tidak sia-sia. Sejenak aku mengamati angka-angka yang tertera di kertas
tersebut. Penjelajahan mataku akhirnya tertuju pada sebuah kolom yang
bertuliskan “jumlah nilai”. Aku mengamati sejenak, namun mataku tidak mau
beranjak dari kolom tersebut. Aku mengembangkan senyum yang sejak semula
tersungging di bibirku.
Bangun pagi-pagi mata masih pedes, malas buat gerakin badan. terpaksa turun dari tempat tidur karena belum sholat subuh. ckckckck :D
hal yang paling ngebosenin akhirnya terjadi, BERANGKAT SEKOLAH... mennn....
dalam malam remang ia bercanda mencoba menghapus luka menyambung nyawa meski sudah tak ber-asa dengan sedikit sepuhan celak bersanding dengan jelaga tembakau dan vodka sederet biji mentimun tertata rapi dalam balutan merah merah , iya merah, semerah darah